Gara-gara Ratusan Kapal Ikan, Proyek Bali Maritime and Tourism Hub Sempat Mandek




Jakarta

Pemerintah sedang membangun proyek Bali Maritime and Tourism Hub (BMTH) di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali. Pembangunan proyek ini sempat terganjal dengan keberadaan ratusan kapal ikan yang terparkir di kawasan tersebut.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama PT Pelindo (Persero) Arif Suhartono. Arif mengatakan proses pengerukan hingga izin pendalaman proyek BMTH memakan waktu yang cukup lama yakni baru selesai pada akhir 2023.

“Dan kedua ini penting sekali, di tengah-tengah ada kolam. Kalau bapak/ibu lihat di sana saya yakin lihat ratusan kapal ikan. Mungkin sekitar 500 sampai 600 (kapal) pak. Bahkan, kadang-kadang sampai 700 kapal ikan,” kata Arif, ditemui usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XI di Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (2/7/2024).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apabila berbicara tentang kapal ikan di sana, lanjut Arif, Benoa sendiri bukan pelabuhan perikanan. Oleh karena itu pihaknya pun akhirnya berkoordinasi dengan pemerintah dalam mengatasi masalah tersebut.

Alhasil, pada bulan Mei kemarin diadakan rapat koordinasi (Rakor) bersama sejumlah menteri yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan. Dari sana, disepakati untuk pemindahan kawasan perikanan tersebut.

“Diadakan rakor dipimpin Pak Menko Marves dan ada empat menteri memastikan bahwa kapal ikan bisa bergeser ke pelabuhan perikanan. Jadi di sana ada pelabuhan perikanan, kalo nggak salah Teluk Awang, ini akan digeser ke sana secara bertahap,” ujarnya.

Arif menjelaskan, langkah penggeseran itu dilakukan lantaran di sana bukan merupakan Pelabuhan ikan. Selain itu, kawasan tersebut akan diubah menjadi kawasan wisata sekaligus landmark wisata di Bali.

“Saya tidak mengatakan kurang harum (perikanan), tapi bapak/ibu bisa merasakan sendiri tidak mungkin kondisinya digabung. Nanti kita harapkan di situ kalo seandainya eksistensi kebutuhan marina lebih banyak, kolam tersebut bisa kita gunakan untuk marina,” jelasnya.

Ia berharap, proses perpindahan ini bisa diselesaikan secepat mungkin. Didukung dengan munculnya kepastian terkait langkah pemindahan itu dari rakor menteri tersebut, diproyeksikan dalam waktu satu-dua minggu Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan investor pengembang bisa dilakukan.

Sebagai tambahan informasi, pengembangan Pelabuhan Benoa sebagai tourism hub di Indonesia akan menjadikan Pelabuhan Benoa sebagai pusat rute pelayaran cruise di Indonesia. Peningkatan kapasitas Pelabuhan Benoa sebagai maritime tourism hub akan memberikan multiplier impact terhadap perubahan-perubahan dalam konsep butterfly direction cruise di Indonesia.

Hal ini antara lain seperti Pelabuhan Tanjung Emas, Tanjung Perak, Gilimas, Labuan Bajo, Raja Ampat, Makassar, Manado, Ambon, Kumai, Pontianak dan lain-lain. Selain itu, kunjungan kapal pesiar di pelabuhan-pelabuhan tersebut juga akan memberikan multiplier impact kepada ekonomi masing-masing daerah.

Saat ini, Pelabuhan Benoa sudah dapat melayani kapal pesiar jumbo untuk sandar (vacation spot port) dan layanan embarkasi dan debarkasi penumpang (flip round). Kapal pesiar dapat bersandar di dermaga timur dengan panjang mencapai 500 meter setelah sebelumnya ditambah 160 meter. Dengan begitu, dua kapal pesiar ukuran jumbo yakni dengan panjang sekitar 294 meter sudah bisa sandar dalam waktu yang bersamaan.

Lihat juga Video ‘Kapal Ikan Vietnam Kabur Dikejar Petugas di Laut Natuna’:

[Gambas:Video 20detik]

(shc/kil)



Source link

By oli665

Rekomendasi untuk anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *