Menteri ESDM Ungkap Listrik dari Batu Bara Jadi Tantangan Smelter RI

By oli665 Jul 5, 2024 #batu bara #listrik #smelter




Jakarta

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan, listrik menjadi tantangan dalam pembangunan fasilitas pemurnian mineral (smelter). Listrik yang dibutuhkan untuk smelter sangat besar dan mayoritas masih dihasilkan oleh pembangkit listrik berbahan dasar batu bara yang menghasilkan emisi gasoline buang cukup besar.

“Di Sulawesi sendiri, smelter yang ada disini, mengkonsumsi kurang lebih 20 GW, dan itu didominasi dari batubara, jadi kalau dihitung emisi karbonnya ini sekian juta ton, nah ini tentu saja akan menjadi satu tantangan ya buat industri-industri smelter yang ada di sini,” ungkapnya dikutip dari laman Kementerian ESDM, Jumat (5/7/2024).

Tak cuma itu, Arifin mengatakan, tantangan industri smelter ialah saat ini dunia menuntut produk-produk yang merupakan hasil dari pemanfaatan energi bersih. Negara-negara Eropa bahkan sudah mulai menerapkan Go Border Carbon Mechanism.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Negara Eropa sudah berpacu untuk mendorong pemakaian energi bersih dan sudah mulai menerapkan mekanisme yang disebut Go Border Carbon Mechanism, nanti di situ ada masalah perpajakan emisi gasoline CO2 ke depan,” imbuhnya.

Melalui penerapan Go Border Carbon Mechanism, tambah Arifin, akan ada pengenaan pajak karbon sehingga produk industri dalam negeri akan terbebani dengan pajak karbon tersebut serta akan menjadi mahal dan tidak kompetitif. Saat ini, pemerintah sedang menyusun rencana untuk bisa menyediakan tenaga listrik dengan energi yang memiliki emisi karbon yang rendah.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat besar, seperti prospek sumber gasoline di Blok Masela yang akan produksi pada 2030 dengan proyeksi sebanyak 10,5 juta ton LNG according to tahun. Kemudian di Selat Makassar ada lapangan miliki ENI yang akan produksi pada 2027-2028, serta satu blok di Sumatera Bagian Utara, yakni Blok Andaman.

Potensi besar lain, jelas Arifin, adalah energi matahari di Indonesia dan angin. Namun, potensi tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimum karena terbatas industri pendukungnya. Potensi lain yang belum dimaksimalkan adalah potensi hidro yang berlokasi di Kalimantan Utara dan Papua.Dengan memanfaatkan potensi-potensi tersebut, maka produk-produk yang dihasilkan berasal dari energi yang rendah emisi sehingga harganya bisa kompetitif.

“Tentu saja itu bisa menjadi peluang besar yang bisa ditangkap oleh industri, bagaimana kita itu bisa menyiapkan produk-produk yang didukung oleh energi bersih untuk bisa bersaing secara international. Produk kita pun juga tidak tergantung kepada satu pasar yang belum menerapkan Go Border Carbon Mechanism, karena produknya sudah standar internasional dan kompetitif,” tutupnya.

(acd/ara)



Source link

By oli665

Rekomendasi untuk anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *